Oleh: Muhammad Fauzan
Hari itu langit cerah diiringi burung-burung berkicauan. Seperti biasa pria yang berprofesi sebagai wartawan itu selalu berlarian kesana kemari memburu sebuah berita. Pengalamannya bisa dibilang sudah cukup melanglang buana bekerja di salah satu media ternama di Semarang. Ya meliput sudah menjadi makanan sehari-harinya meskipun panas, hujan ia tetap nekat menerjangnya.
Zidan ialah namanya, seorang pria berusia 28 tahun tersebut berdomisili di Semarang. Rambutnya ikal dan berkulit agak gelap itulah cirinya. Menulis merupakan hobi yang sangat disukainya bahkan ia pernah menerbitkan satu buku fiksi. Dalam ajang lomba menulis, jurnalis tersebut juga seringkali meraih juara.
Suatu hari ia mendapati tugas untuk meliput tentang sekolah luar biasa yang berada di Semarang. Zidan kemudian bertolak menuju lokasi sekolah itu dengan motor matic miliknya. Mengenakan pakaian rapi, tas, kacamata lalu tak lupa ransel hitamnya. Ia juga tak lupa seperangkat alat untuk liputan telah di masukannya kedalam ransel miliknya. Saat jarum jam di pergelangan tangan kanannya menunjukkan pukul 08.30 ia langsung bergegas dan menarik gas motornya.
Setelah meliuk-liuk melewati celah-celah truk di jalan Pantura akhirnya tibalah ia di sekolah luar biasa. Menarik tuas rem lalu Zidan memakrikan motornya di gedung parkiran yang juga dipenuhi motor guru.
“Akhirnya sampai juga,” ujarnya sambil melepas helem di kepalanya.
Ia lalu berjalan menuju kantor guru dan mengetuk pintunya yang masih tertutup rapat.
“(tok tok tok) Assalamualaikum… permisi,” Serunya sambil mengetuk pintu.
“Eh iya sebentar,” sahut salah seorang guru yang ada di dalam kantor tersebut.
“Iya ada apa ya mas?” tanyanya sembari membukakan pintu.
“Sebelumnya izin ibu perkenalkan saya Zidan jurnalis dari Suara Merdeka Semarang mau meliput tentang sekolah luar biasa ini Bu. Untuk itu apakah berkenan Bu?” jawab Zidan.
“Boleh-boleh silahkan mas Zidan. Monggo masuk dulu nggak baik ngomong di depan dilihatin orang hehe,”
“Baik bu terimakasih,” ujar Zidan sambil memasuki kantor tersebut.
Zidan pun langsung menceritakan detail tentang kedatangannya untuk meliput di sekolah luar biasa tersebut. Tak lupa ia juga menunjukan surat tugas dari kantor beserta ID Card miliknya agar tidak disangka sebagai wartawan gadungan.
“Jadi saya itu disuruh pimpinan redaksi saya untuk meliput tentang anak-anak disabilitas di sekolah ini dan juga tentang sedikit sejarah sekolah ini bagaimana,” ujar Zidan.
“Oh gitu ya mas. Boleh sih kalo mau tentang sejarahnya juga ini ada brosur kebetulan sebentar lagi ini mau ada penerimaan siswa baru,” jawab guru tersebut.
“Terus kalo mau lebih lengkap bisa mengakses web kami,” tambahnya.
“Eh maaf saya sampai lupa belum memperkenalkan diri ya,” katanya sambil tertawa.
“Oke sebelumnya perkenalkan mas nama saya Diyah saya sebagai guru di SD luar biasa ini dan sekaligus wakil kepala sekolah mas. Kalau kepala sekolahnya kebetulan sedang ke luar kota mas masih ada rapat disana,” kata wakil wali kelas tersebut.
“Oke Bu diah salam kenal ya. Baik Bu tidak apa-apa. Kalau gitu apakah boleh dimulai untuk wawancaranya Bu?”
“Boleh-boleh mas silahkan mas dengan senang hati,” ujarnya.
Zidan pun langsung mempersiapkan alat-alatnya seperti microphone bluetooth, kamera, tripod, buku catatan dan bolpoin yang diambil dari ranselnya. Setelah menaruh dan mengatur alatnya sesuai dengan posisinya Zidan langsung menyalakan kamera dan merekamnya kemudian disambung dengan beberapa pertanyaan untuk Bu Diah.
Pertanyaan demi pertanyaan telah dilontarkan oleh zidan sementara Bu Diah juga menjawabnya satu per satu. Mulai dari sejarah sekolah, jumlah murid, hingga murid yang berprestasi. Namun ada satu pertanyaan yang sedikit menyentuh hati Bu Diah. Pertanyaan itu membuat air mata Bu Diah tak bisa dibendung.
“Oke Bu mungkin satu kali lagi ya Bu. Bagaimana sih rasanya bisa mengajar di SD Luar biasa ini apakah ada perbedaan dari sekolah SD biasanya?” tanyanya.
“Kalo perbedaan sih jelas ada ya mas. Menurut saya sih bedanya ya terletak di materi pelajaran yang diberikan terus juga yang terutama kita juga dituntut harus bersikap lebih sabar soalnya ya tau sendirilah ya mereka itu anak-anak disabilitas bukan anak normal seperti pada umumnya,” jawab Bu diah.
“Jadi kalau saya sih juga sebenarnya terharu ya bisa mengajar anak-anak disabilitas yang mungkin sering dianggap sebelah mata oleh orang-orang,” ditengah jawabannya tiba-tiba air mata Bu Diah menetes. “Sebenrernya mereka itu sama seperti kita, mereka manusia yang juga ingin bermain, berkomunikasi, bercanda. Toh semua orang juga pasti memiliki kelebihan maupun kekurangan. Begitupun dengan mereka anak disabilitas buktinya ada beberapa yang meraih juara mengikuti lomba-lomba. Seperti main musik, melukis, menari, sepak bola”.
Mendengar penjelasan guru tersebut Zidan ikut terbawa suasana dan matanya terlihat berkaca-kaca.
“Benar juga ya mengajar anak-anak biasa saja pasti pada ribut apalagi ini ditambah mereka anak disabilitas, guru ini sungguh memiliki kesabaran yang luar biasa,” gumam Zidan dalam hatinya.
Setelah lama mewawancarai Bu Diah, Zidan pun meminta izin untuk beralih mewawancarai murid disabilitas di sekolah itu. Ia juga meminta izin untuk memotret serta merekam video dengan kameranya di ruangan kelas.
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju ruamg kelas lalu Zidan dengan cekatan langsung memotret susasana di ruangan kelas. Sementara Bu Diah tak lupa memperkenalkan zidan pada anak-anak muridnya. Bukan perkenalan seperti pada umumnya yang riuh dengan suara anak-anak kecil yang khas. Perkenalan kali ini menggunakan bahasa isyarat walau begitu para murid-murid tetap bersemangat menyambut kedatangan sang jurnalis tersebut.
Tak menunggu lama Bu Diah langsung membentuk jari-jari ditangannya menjadi sebuah rangkaian bahasa isyarat yang ditujukan kepada murid-muridnya. Setelah paham maksud yang di sampaikan oleh Bu Diah murid-murid tersebut menganggukan kepalanya sebagai tanda mereka memahaminya.
Bu Diah juga terlihat menerjemahkan dengan cepat setiap kata yang diucapkan oleh Zidan saat Zidan tengah mewawancarai murid-murid tersebut. Para murid pun langsung memahaminya. Zidan pun selanjutnya berpamitan dengan Bu Diah namun sebelum itu ia tak lupa meminta nomor hp guna melakukan konfirmasi terkait narasi beritanya yang nantinya akan dibuat.
Keesokan harinya Zidan mengirimkan narasi tersebut ke Bu Diah melalui WhatsApp. Bu Diah pun tanpa basa basi langsung menerima narasi tersebut tanpa adanya revisi darinya. Disisi lain Zidan yang sudah tak bisa memendam rasa cintanya kepada sang guru SD luar biasa tersebut.
Akhirnya Zidan memutuskan pergi ke sekolahan lagi dengan membawakan sebungkus donat ia memberikannya ke satpam beserta sebuah pesan yang berisi tentang ungkapan perasaannya. Satpam tersebut kemudian berjalan sambil memegang donat tersebut dengan kedua tangannya menuju ruang kelas tempat budiah mengajar.
“Permisi. Bu Diah ini ada kiriman donat,” kata satpam tersebut di sela-sela kegiatan Bu Diah mengajar.
“Iya pak. Dari siapa itu pak?” tanyanya.
“Ini dari Zidan katanya Bu,” jawab satpam sambil memberikan donat tersebut.
“Oh Zidan yang kemarin itu ya. Oke pak terimakasih banyak ya,” jawabnya sambil menerima donat tersebut.
“Kok bisa ya dia tiba-tiba ngasih donat ke aku,” gumamnya dalam hati. “Lho kertas apa ini?”
“Ya ampun demi apa ini.. Zidan ternyata menyukaiku?” Lirih Diah sambil memegang surat tersebut.
“Sepertinya nggak ada salahnya juga aku menerima tawarannya. Lagi pula dia sepertinya anak baik,” gumamnya.
Diah lalu mengambil ponsel dari tasnya lalu membuka WhatsApp dan mengirimkan pesan kepada Zidan.
“Ini kamu yang ngirim donat mas?” tanyanya di pesan WhatsApp.
“Iya Bu Diah. Aku yang mengirim donat itu. Semoga suka ya,” balasnya dengan menyematkan emot tersenyum.
“Iya aku suka kok. Mulai sekarang panggil saja namaku ngga usah pakai Bu. Oh ya soal ke pantai sore ini aku mau mas,” balas Diah.
“Oke siap. Nanti ku jemput kamu ya sore ini,” balas Zidan.
“Iya mas aku tunggu ya,” tulis Diah dengan menyisipkan emot tersenyum.
Sore pun tiba. Sang mentari terlihat mulai meredupkan sinarnya di ufuk barat. Dengan pakaian yang rapi serta wangi Zidan dengan penuh semangat menghampiri Diah dengan sepeda motornya. Setelah 10 menit perjalanan ditempuhnya ia pun tiba di depan sekolah SD luar biasa tersebut.
“Aku sudah sampai Diah,” tulisnya di WhatsApp.
“Oke mas aku kesana,” balasnya.
Diah pun bergegas menuju ke luar sekolah menemui Zidan. Dengan tas yang terlampir di pundak kanannya dan blezer biru Dongker nya Diah melangkahkan kakinya dengan sedikit perasaan yang berdebar-debar.
“Maaf ya kalo nunggu lama hehe,” ujar Zidan.
“Gapapa mas. Aku juga tadi juga agak lama tadi hehe,” katanya.
Setelah itu mereka berdua berangkat dari sekolah menuju ke pantai. Sesampai disana mereka duduk di tepi pantai sembari menikmati sepoi angin yang berhembus perlahan. Ditambah sang Surya yang perlahan tenggelam di balik laut. Deburan ombak yang riuh serta burung-burung camar yang terbang menuju ufuk barat terlihat menghiasi langit sore itu.
“Akhirnya ya. Kita bisa duduk berdua diantara senja yang menyapa,” kata Zidan.
“Iya mas,” ujar Diah dengan wajah yang malu-malu. “Kenapa kamu mengajak aku kesini mas?”
“Ya gapapa sih aku hanya ingin menikmati senja berdia bersama kamu,” ujarnya
“Jujur aku tertarik denganmu karena kesabaranmu dalam mengajar anak-anak disabilitas itu Diah. Aku tak bisa membayangkan melihat orang mengajar murid biasa aja pasti akan selalu diuji kesabarannya. Apalagi ini ditambah anak-anak dengan latar belakang disabilitas,” kata Zidan sambil memandangi langit senja.
“Itu sudah biasa bagiku mas. Menghadapi murid-murid memang membutuhkan kesabaran ekstra. Ya mau gimana lagi itu juga sudah menjadi tanggung jawabku,” ujar Diah membalas.
“Iya kamu benar Diah. Itulah sebabnya aku mengagumimu. Bukan hanya parasmu juga kesabaranmu. Itulah yang membuatmu begitu bernilai dimataku,” tuturnya.
Gemuruh ombak terus menerus menderu. Senja kala itu juga menjadi saksi bisu antara Zidan dan Diah yang memutuskan untuk menjalin asmara. Setelah mentari redup langit malam pun menggantikannya. Mereka berdua pun pulang dengan penuh rasa bungah dikarenakan kasih sayang yang sudah terjalin setelah bercengkrama di tepi pantai yang indah tersebut.





